Tampilkan postingan dengan label Plant protection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Plant protection. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

Jenis-jenis Virus Tanaman


  1. Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD)
Inang   :
            Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
            Jeruk Manis (Citrus aurantium)
Gejala:
  1. Gejala Luar
Nekrosis pada daun dan kerdil pada daun muda. pertumbuhannya mencuat keatas dengan daun- daun kecil dan belang- belang kuning. Tanaman biasanya menghasilkan buah berkualitas jelek.
Pada tanaman dewasa, gejala yang sering tampak adalah cabang yang dsaun- daunnya kuning dan kontras dengan cabang lain yang daun- daunnya masih sehat.

Sabtu, 01 Juni 2013

Struktur dan Klasifikasi Nematoda

Klas nematoda terdiri dari bebrapa spesies tidak hanya bersifat parasitik terhadap manusia, namun juga terhadap binatang, tumbuhan baik yang diusahakan maupun liar.
Nematoda merupakan organisme yang mempunyai struktur sederhana. Nematoda dewasa tersusun oleh ribuan sel-sel somatik, ratusan sel diantaranya membentuk sistem reproduksi.  Tubuh nematoda berupa tabung yang disebut sebagai pseudocoelomate.
Kutikula: Merupakan bagian dinding tubuh bagian luar yang berfungsi sebagai pelindung bagian di bawahnya.
Ciri morfologi nematoda:

Kamis, 30 Mei 2013

Mengenal Nematoda



MORFOLOGI NEMATODA
 Nematoda termasuk dalam kerajaan hewan, dan speciesnya bersifat parasit pada tumbuhan, berukuran sangat kecil yaitu antara 300 - 1000 mikron, panjangnya sampai 4 mm dan lebar 15 - 35 mikron. Karena ukurannya yang sangat kecil ini menyebabkan hewan ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang akan tetapi hanya bisa dilihat dengan mikroskop.

Senin, 27 Mei 2013

Nematoda luka akar (Pratylenchus sp.)



Ciri Morfologi
Nematoda luka akar (Pratylenchus sp.) merupakan nematoda yang berukuran sangat kecil di antara nematoda parasit tumbuhan lain. Ukuran panjang dan lebar tubuhnya adalah yang terkecil setelah Paratylenchus sp. Lebar tubuh nematoda ini antara 40 μm hingga 160 μm (Whitehead, 1998), dengan panjang tubuh antara 0,4-0,7 mm, sedangkan diameter tubuh 20 -25 μm (Agrios, 1997). Pada beberapa jenis kedua kelamin terpisah, tetapi beberapa jenis yang lain jenis kelamin jantan tidak terdapat. Bentuk nematoda ini pada umumnya memanjang, bagian ujung anterior kepala mendatar, dengan kerangka kepala yang kuat, mempunyai stilet pendek dan kuat, panjangnya 14-20 μm dengan basal knop yang jelas. Kelenjar esofagusnya tumpang tindih dengan usus pada bagian ventral. Muara lubang ekskresi berada di dekat daerah pertemuan esofagus dan usus. Vulva terdapat di daerah posterior. Betina mempunyai gonad tunggal dan

Sabtu, 25 Mei 2013

Mikroorganisme Tanah



Inokulasi mikroorganisme dapat dijadikan alternatif dalam mengatasi kelangkaan pupuk anorganik yang disebabkan mahalnya harga dan distribusi yang tidak merata. 
Ada anggapan yang salah dalam menilai produktivitas padi lokal yang ditanam di lahan pasang surut di Kalimantan Selatan. Biasanya padi tersebut dianggap memiliki produktivitas hasil yang rendah. Kenyataannya di Lapangan tidak seperti itu. Hasil survei pada tahun 1999-2002, di lahan pasang surut tanah sulfat masam diperoleh hasil yang tinggi meski tanpa penggunaan pupuk. Produktivitas padi lokal untuk varietas Siam Ubi mencapai 5,34 ton/ha, Siam Puntal 4,12 ton/ha dan Siam Unus 3,09 ton/ha. 

Senin, 20 Mei 2013

Mikroba Patogen Pada Makanan



Bahan makanan, selain merupakan sumber gizi bagi manusia, juga merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme. Pada umumnya bahan makanan merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan dapat menyebabkan perubahan yang menguntungkan seperti perbaikan bahan pangan secara gizi, daya cerna ataupun daya simpannya. Selain itu pertumbuham mikroorganisme dalam bahan pangan juga dapat mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak layak dikomsumsi (Syarifah, 2002) Kejadian ini biasanya terjadi pada pembusukan bahan pangan. Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk pertumbuhan mikroorganisme patogenik dan organisme lain penyebab penyakit.

Jumat, 17 Mei 2013

Pembuatan Medium



Cara Kerja
1)      Timbang sebanyak 100 gram tauge, cuci lalu direbus dengan 1000 cc aquadest air selama kurang lebih 90 menit.
2)      Ekstrak tauge yang diperoleh lalu ditambah 60 gram gula dan 25 gram agar-agar. Diaduk terus dan didihkan serta tambahkan aquadest kedalamnya untuk mempertahankan volume tetap 1000 cc.
      Setelah siap ukur pH media dengan menggunakan kertas pH. Untuk pertumbuhan mikroorganisme tetapkan pH media antara 4 sampai 8 saja. Apabila media terlalu asam ataupun basa maka dapat ditambahkan 0,1 n NaOH (bila media terlalu asam) atau 0,1 n HCl (bila media basa).
     

Kamis, 16 Mei 2013

Alat-alat Laboratorium dan fungsinya



Cawan Petri
Fungsi
            Cawan petri berfungsi sebagai tempat media yang akan digunakan untuk menumbuhkan mikrobia.
Cara Kerja
            Untuk menggunakan cawan petri terlebih dahulu bibir cawan dipanaskan di atas bunsen, agar mikrobia yang tidak diinginkan mati.

Rabu, 15 Mei 2013

Jamur Air



Jamur air atau Oomycota adalah kelompok protista uniseluler yang berfilamen. Jamur air secara fisik mirip denganfungi. Mereka mikroskopik. Nama "jamur air" yang diberikan berdasarkan fakta bahwa mereka tumbuh dengan baik dalam kondisi kelembaban yang tinggi dan berair.
Jamur air pada awalnya dikelompokkan sebagai fungi, tetapi sekarang diketahui telah berkembang terpisah dan menunjukkan banyak perbedaan. Dinding sel mereka tersusun atas selulosa, bukan chitin. Juga, dalam reproduksi vegetatif, mereka memiliki nuklei diploid, sedangkan fungi memiliki nuklei haploid.

Selasa, 14 Mei 2013

Jamur (Fungi) dan Klasifikasinya



Merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai akar, batang, daun sehingga disebut dengan tumbuhan tallus. Tubuh terdiri dari satu sel (uniseluller) dan bersel banyak (multiseluller). Sel berbentuk benang (hifa). Hifa akan bercabang-cabang membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut miselium. Sel bersifat eukaryotik, tidak mempunyai klorofil, sebagai parasit atau saprofit. Menyukai hidup pada tempat yang lembab dan tidak menyukai akan adanya cahaya.
Alat reproduksi berupa :
  • gametangium : penghasil gamet jantan dan betina
  • sporangium  : penghasil spora seksual dan spora aseksual

Senin, 13 Mei 2013

Sistem Pengendalian Hama Terpadu



Pendahuluan
Indonesia dinilai berhasil dalam menerapkan dan mensosialisasikan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui Proyek Nasional PHT.  Negara ini juga termasuk pelopor dalam pelaksanaan PHT sebab telah lama mempunyai undang-undang yang menyebutkan secara eksplisit bahwa sistem PHT merupakan satu-satunya sistem untuk pengendalian hama dan penyakit tumbuhan, dan undang-undang ini telah 13 tahun umurnya.  Apakah dalam penerapan sistem PHT di tingkat petani, khususnya tentang pengelolaan penyakit tumbuhan terdapat permasalahan ? kalau memang adapermasalahan, bagaimana solusinya ? 

Minggu, 12 Mei 2013

Klasifikasi Penyakit Tumbuhan



Pada waktu sekarang telah dikenal banyak macam patogen tumbuhan dan tidak sedikit diantaranya yang mempunyai arti ekonomi penting. Setiap macam tanaman dapat diserang oleh banyak macam patogen tumbuhan, begitu pula satu macam patogen ada kemungkinan dapat menyerang sampai berpuluh-puluh tanaman. Sering pula terjadi, bahwa patogen tumbuhan tertentu dapat menyerang satu macam organ tanaman atau ada pula yang menyerang berbagai macam organ tanaman. Kenyataan ini akan menyulitkan dalam mempelajari penyakit pada tanaman. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka diadakan klasifikasi penyakit tumbuhan sehingga memudahkan kita untuk mempelajari penyakit tumbuhan menurut kepentingannya masing-masing. sampai sekarang kita telah mengenal berbagai kretaria yang digunakan untuk maksud tersebut. Dengan demikian klasifikasinya dapat digolongkan berdasarkan antara lain:

Sabtu, 11 Mei 2013

Karantina Tanaman



Pengaruh iklim global terhadap ketahanan pangan juga berimplikasi terhadap munculnya ras, strain, biotype, genom baru, dari hama dan penyakit yang mempengaruhi tanaman, ternak, dan manusia serta berdampak menimbulkan resiko baru terhadap ketahanan pangan. Kecepatan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi menjadi perhatian utama para ahli terutama yang terkait dengan eksistensi patogen, serangga hama, dan gulma yang dapat menurunkan hasil tanaman.
          

Jumat, 10 Mei 2013

Penangkapan dan penangkaran Kupu-Kupu



Upaya penangkaran kupu-kupu adalah kegitan yang berhubungan dengan pengembangbiakan kupu-kupu, yang meliputi kegiatan penangkaran, pengelolaan, sampai denagn pemasaran. Konsep penangkaran yang merupakan kegiatan konservasi, yaitu :
  1. restorasi, yang bertujuan untuk mengembalikan jenis-jenis kupu-kupu yang telah hilang habitatnya.
  2. preservasi, bertujuan untuk melestarikan kupu-kupu dengan pemeliharaan dan perlindungan kupu-kupu dan okosistemnya.
  3. pemungutan hasil, bertujuan untuk pemanfaatan/pemanenan dari hasil penangkaran untuk perdagangan dan penambahan populasi di alm.

Rabu, 01 Mei 2013

Definisi Agens Hayati

Pengertian agens hayati menurut FAO (1988) adalah mikroorganisme, baik yang terjadi secara alami seperti bakteri, cendawan, virus dan protozoa, maupun hasil rekayasa genetik (genetically modified microorganisms) yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pengertian ini hanya mencakup mikroorganisme, padahal agens hayati tidak hanya meliputi mikroorganisme, tetapi juga organisme yang ukurannya lebih besar dan dapat dilihat secara kasat mata seperti predator atau parasitoid untuk membunuh serangga. Dengan demikian, pengertian agens hayati perlu dilengkapi dengan kriteria menurut FAO (1997), yaitu organisme yang dapat berkembang biak sendiri seperti parasitoid, predator,

Kamis, 27 Desember 2012

FORMULASI PESTISIDA


A.      Susunan Formulasi Pestisida

             Bahan aktif pestisida tidak dijual begitu saja dalam bentuk murni, melainkan harus diformulasikan terlebih dahulu dengan cara dicampur bahan-bahan lain agar mudah diaplikasikan, Secara garis besar, formulasi pestisida yang diperdagangkan umumnya terdiri dari 3 bagian, yaitu bahan aktif, bahan pembantu, dan bahan pembawa.

1.       Bahan Aktif
             Bahan aktif merupakan senyawa kimia atau bahan-bahan lain yang memiliki efek sebagai pestisida. Bahan aktif pestisida dapat berbentuk padatan, cair, dan gas. Bahan aktif yang digunakan dalam produksi komersil disebut bahan aktif teknis. 
             Bahan aktif yang biasanya digunakan dalam formulasi berasal dari bahan aktif teknis dalam bentuk aslinya, yang kemudioan dicampur dengan bahan pembantu dan bahan pembawa. Namun beberapa bahan aktif kimia sintetik dalam bentuk aslinya terutama herbisida yang bahan aktifnya berbentuk asam sering sulit diformulasikan. Oleh karena itu bahan aktif seperti ini sering menggunakan bentuk garam atau ester.

2.       Bahan Pembantu (Adjuvant)
Bahan pembantu merupakan bahan-bahan atau senyawa kimia yang ditambahkan ke dalam pestisida dalam proses formulasinya agar mudah diaplikasikan atau digunakan untuk memperbaiki efikasi pestisida tersebut. Bahan-bahan pembantu yang sering ditambahkan pada formulasi antara lain:
a.      Solvent
                Solvent adalah bahan cair pelarut misalnya alkohol, minyak tanah, xylene dan air. Solvent ditambahkan ke dalam formulasi untuk melarutkan bahan aktik karena bahan aktif pestisida tidak larut dalam air atau minyak. Beberapa contoh solvent organik yang biasa digunakan yaitu asetonitril, aseton, diklorometan, etanol, etilasetat, heksan, methanol, toluene, dan xylene.

b.      Diluent
                Diluent umumnya ditambahkan ke dalam formulasi untuk membantu melarutkan atau membawa bahan aktif. Beberapa contoh adalah silica gel, hydrated alumunium oxide dan kalsium silikat.

c.       Suspension Agent
                Suspension Agent adalah bahan pembantu yang digunakan untuk membantu pembentukan suspensi, umumnya dicampurkan dalam formulasi WP. Suspension Agent ini membantu pestisida dalam bentuk tepung untuk tidak cepat mengendap.

d.      Emulsifier
                Emulisifier adalah bahan pembantu yang digunakan untuk membantu pembentukan emulsi. Emulsifier merupakan bahan detergen yang akan memudahkan terjadinya emulsi bila bahan minyak diencerkan dalam air. Umumnya ditambahkan ke dalam formulasi EC.

e.       Buffer
                Buffer merupakn bahan kimia yang ditambahkan ke dalam formulasi untuk menstabilkan pH formulasi pestisidan antara 5,5 – 7. Umumnya adalah campuran asam lemah dengan garamnya, misalnya CH3COOH (asam lemah) plus  CH3COONa (garam natrium).

f.        Surfactant
                Surfactant membantu membasahi bidang sasaran dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Dengan demikian maka butiran semprot akan lebih mudah menempel pada bidang sasaran.

g.      Sticker
                Sticker membantu merekatkan butiran semprot pada bidang sasaran dengan cara meningkatkan adhesi partikel ke bidang sasaran. Sticker menurunkan kemungkinan pestisida luruh atau tercuci akibat hujan. Beberapa diantaranya juga mengurangi penguapan.

h.      Plant Penetrants
                Plant Penetrants mampu meningkatkan penetrasi beberapa pestisida ke dalam jaringan tanaman tertentu. Umumnya digunakan untuk bahan aktif pestisida dan tanaman yang spesifik.

i.        Tickener
                Tickener berfungsi untuk meningkatkan kekentalan larutan semprot. Digunakan untuk mengendalikan butiran semprot terbawa angina dan menghambat penguapan. Kebanyakan pestisida hanya akan mampu menembus kulit daun tanaman selama pestisida tersebut dalam bentuk larutan. Jika kering pestisida tidak lagi mampu menembus jaringan tanaman, Tickener inilah yang memecahkan masalah tersebut.

j.        Deforming Agent
                Deforming Agent digunakan sebagai penghambat terbentuknya busa pestisida jika dituang atau diaduk dalam tanki, biasanya digunakan dalam jumlah kecil.

k.       Safener
                Safener merupakan bahan yang ditambahkan untuk mengurangi fitotoksik dari pestisidaterhadap tanaman.

l.        Synergist
                Synergis, sejenis bahan yang dapat meningkatkan daya racun, walaupun bahan itu sendiri mungkin tidak beracun, seperti sesamin (berasal dari biji wijen), dan piperonil butoksida.


SERANGGA YANG MENJADI HAMA TANAMAN


Berikut ini adalah beberapa jenis serangga, yang berperan sebagai hama tanaman. Selamat membaca, semoga bermanfaat buat pengunjung setia My BLOG......


No.
Nama Umum
Ordo
Famili
Genus
Spesies
1
Penggerek Cabang Jeruk
Coleoptera
Buprestidae
Agrilus
Agrilus occipitalis
2
Kumbang Kacang Hijau
Coleoptera
Bruchidae
Bruchus
Bruchus chinensis
3
Kumbang Mangga
Coleoptera
Cerambycidae
Batocera
Batocera rufomaculata
4
Kumbang Daun
Coleoptera
Chrysomelidae
Phaedonia
Phaedonia inchlusa
5
Kumbang Kopra
Coleoptera
Cleridae
Necrobia
Necrobia rufipes
6
Kumbang Koksi
Coleoptera
Coccinellidae
Coccinella
Coccinella arcuata F.
7
Kumbang Catut
Coleoptera
Coccinellidae
Dynates
Dynates gideon
8
Lembing / Kumbang Kubah
Coleoptera
Coccinellidae
Epilachna
Epilachna sparsa
9
Kumbang Kelapa Merah
Coleoptera
Curculionidae
Rhynchophorus
Rhynchophorus ferruginens
10
Kumbang Beras
Coleoptera
Curculionidae
Sitophilus
Sitophilus oryzae L.
11
Kumbang Jagung
Coleoptera
Curculionidae
Sitophilus
Sitophilus zeamais
12
Kumbang Moncong Penggerek
Coleoptera
Curculionidae
Cosmopolites
Cosmopolites sordidus
13
Kumbang Badak
Coleoptera
Dynastidae
Oryctes
Oryctes rhinoceros L.
14
Kumbang Lepuh
Coleoptera
Meloidae
Mylabris
Mylabris pustulata
15
Penggerek Batang Padi
Coleoptera
Pyralidae
Tryporiza
Tryporiza incertulas
16
Kumbang Uret
Coleoptera
Scarabiaeidae
Lepidiota
Lepidiota stigma
17
Lalat Kacang
Diptera
Agromyzidae
Agromyza
Agromyza phaseoli
18
Lalat Semai
Diptera
Muscidae
Atherigona
Atherigona exigua
19
Lalat Pemburu Puru
Diptera
Cecidomyiidae
Orseolia
Orseolia oryzae
20
Lalat Bunga
Diptera
Syrphidae
Syrhus
Syrphus balteatur
21
Lalat Buah
Diptera
Tephritidae
Dacus
Dacus pedestris
22
Lalat Buah Timun
Diptera
Tephritidae
Dacus
Dacus curcubitae
23
Lalat Buah Nangka
Diptera
Tephritidae
Dacus
Dacus umbrosus F
24
Walang Sangit
Hemiptera
Alydidae
Leptocorixa
Leptocorixa acuta
25
Kepik Helopeltis
Hemiptera
Miridae
Helopeltis
Helopeltis clavifer (Wlk.)
26
Kepik Hijau
Hemiptera
Pentatomidae
Nezara
Nezara viridula L.
27
Bapak Pucung
Hemiptera
Pyrrhocoridae
Dysdercus
Dysdercus cingulatus F.
28
Lalat Putih/ Kutu Puth
Homoptera
Aleyrodidae
Bemisia
Bemisia tabaci (Genn.)
29
Kutu Daun Cabai
Homoptera
Aphididae
Aphis
Aphis gossypii Glov.
30
Kutu Daun Kacang Panjang
Homoptera
Aphididae
Aphis
Aphis craccivora
31
Kutu Daun Tembakau
Homoptera
Aphididae
Myzus
Myzus persicae
32
Wereng Hijau
Homoptera
Cicadellidae/ Jassidae
Nephotettix
Nephotettix apicalis
33
Wereng Coklat
Homoptera
Delphacidae
Nilaparvata
Nilaparvata lugens
34
Ngengat Gabah
Lepidoptera
Gelechiidae
Sitotroga
Sitotroga cerealella
35
Penggerek Umbi Kentang
Lepidoptera
Gelechiidae
Phthorimae
Phthorimae operculella
36
Ulat Penggulung Daun Pisang
Lepidoptera
Hesperidae
Erionata
Erionata thrax L.
37
Ulat Api
Lepidoptera
Limacodidae
Setora
Setora nitens
38
Ulat Grayak
Lepidoptera
Noctuidae
Spodoptera
Spodoptera litura (F.)
39
Ulat Tentara
Lepidoptera
Noctuidae
Heliothis
Heliothis armigera
40
Ulat Penggulung Daun Kedelai
Lepidoptera
Noctuidae
Lamprosema
Lamprosema indiciata F.
41
Ulat Jeruk
Lepidoptera
Papilionidae
Papilio
Papilio memmon
42
Ulat Polong
Lepidoptera
Pyralidae
Etiella
Etiella zinckenella
43
Ulat Penggerek Padi
Lepidoptera
Pyralidae
Scirpopaga
Scirpopaga innotata Wlk
44
Ulat Kubis
Lepidoptera
Plutellidae
Plutella
Plutella xylostella (L)
45
Kupu - Kupu Gajah
Lepidoptera
Saturniidae
Attacus
Attacus atlas L.
46
Ulat Keket
Lepidoptera
Sphingidae
Agrius
Agrius convolvuli
47
Belalang Kumbara
Orthoptera
Acrididae
Locusta
Locusta migratoria
48
Belalang Kayu
Orthoptera
Acrididae
Valanga
Valanga nigricornis
49
Belalang Pedang
Orthoptera
Tettigonidae
Sexava
Sexava coriacea L.
50
Trips
Thysanoptera
Thripidae
Thrips
Thrips tabaci Lindemon
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...