Senin, 27 Mei 2013

Nematoda luka akar (Pratylenchus sp.)



Ciri Morfologi
Nematoda luka akar (Pratylenchus sp.) merupakan nematoda yang berukuran sangat kecil di antara nematoda parasit tumbuhan lain. Ukuran panjang dan lebar tubuhnya adalah yang terkecil setelah Paratylenchus sp. Lebar tubuh nematoda ini antara 40 μm hingga 160 μm (Whitehead, 1998), dengan panjang tubuh antara 0,4-0,7 mm, sedangkan diameter tubuh 20 -25 μm (Agrios, 1997). Pada beberapa jenis kedua kelamin terpisah, tetapi beberapa jenis yang lain jenis kelamin jantan tidak terdapat. Bentuk nematoda ini pada umumnya memanjang, bagian ujung anterior kepala mendatar, dengan kerangka kepala yang kuat, mempunyai stilet pendek dan kuat, panjangnya 14-20 μm dengan basal knop yang jelas. Kelenjar esofagusnya tumpang tindih dengan usus pada bagian ventral. Muara lubang ekskresi berada di dekat daerah pertemuan esofagus dan usus. Vulva terdapat di daerah posterior. Betina mempunyai gonad tunggal dan
mempunyai kantong pasca vulva yang pendek. Anulasinya halus dan mempunyai empat garis lateral, tetapi ada juga jenis yang mempunyai hingga delapan. Ekornya lebar, ujungnya
membulat dan runcing, panjang 3,5-9% dari panjang tubuh. Nematoda jantan biasanya lebih kecil daripada yang betina (Dropkin, 1996).
Bioekologi
Berdasarkan organ tanaman yang diserang dan cara memarasit tanaman, nematoda luka akar (Pratylenchus sp.) oleh Brown et al. (1980), dikelompokkan ke dalam golongan nematoda endoparasit yang berpindah-pindah (migratory endoparasites). Nematoda masuk ke dalam akar tanaman yang diserang dan tetap
aktif di dalamnya. Setelah berhasil menginfeksi akar tanaman, nematoda menyerang kortek akar tanaman, di dalam akar nematoda aktif dan bergerak, membuat lubang-lubang dan saluran-saluran yang digunakan untuk mengumpulkan telur-telurnya baik secara tunggal atau dalam kelompok kecil. Sebelum melakukan penetrasi pada akar, nematoda kadang-kadang berada di sekitar permukaan akar dan di rambut-rambut akar. Kerusakan kecil pada awalnya adalah menguning, kemudian berubah warna menjadi coklat-kehitaman.

Kerusakan tersebut timbul di tempat nematoda masuk dan makan di dalam akar, di dalam akar nematoda memakan sel, membuat saluran dan lubang sehingga, menjadikan akar tanaman nekrosis (Whitehead, 1998).

Nematoda aktif mulai juvenil 2-4 dan dewasa melakukan penetrasi akar tanaman secara langsung, kemudian nematoda masuk ke dalam kortek akar. Setelah masuk nematoda bereproduksi dan bergerak aktif di dalamnya, sehingga aktifitas seperti ini menyebabkan jaringan akar busuk, hancur dan patah. Jika akar sudah tidak dapat dijadikan inang, nematoda kemudian keluar dari akar yang sudah busuk dan rusak tersebut. Nematoda yang keluar ini dapat menginfeksi akar tanaman lain yang sehat dalam satu pohon atau antar pohon. Kemungkinan lain nematoda meletakkan telur-telurnya di luar akar (tanah) sampai telur-telur tersebut menjadi juvenil dan bergerak di dalam tanah untuk mencari inang baru. Terlihat pada gambar, semua tingkatan juvenil dari juvenil satu sampai dengan juvenil empat dan dewasanya dapat melakukan penetrasi pada inang secara langsung.

Nematoda bergerak di dalam tanah diantara pori-pori dengan diameter 20-30 mili mikron atau lebih (Dropkin, 1996). Nematoda dapat menyelesaikan satu generasi dalam waktu 3-4 minggu jika kondisi lingkungan mendukung bagi perkembangannya, (Agrios, 1996). Menurut Brown et al., (1980), nematoda luka akar melengkapi siklus hidupnya dalam waktu 45 hingga 65 hari. Namun , perkembangan ini juga dapat dipengaruhi oleh jenis nematoda, tanaman inang dan temperatur tanah (Whitehead, 1998). Sebagai contoh, P. brancyurus dan P. zeae berkembang lebih cepat pada suhu 28-35 derajat Celcius, jika dibandingkan dengan suhu 15-25 derajat Celcius dan melengkapi siklus hidup dalam waktu 35-45 hari (Agrios, 1997). Satrahidayat (1992), menggolongkan pengaruh suhu terhadap nematoda dalam lima kategori, yaitu; pertama, suhu yang rendah tapi tidak mematikan nematoda, suhu ini berkisar antara 5-150C; kedua, suhu optimum, yaitu suhu diantara 15-30 derajat Celcius; ketiga, suhu tinggi yang tidak dapat mematikan nematoda tapi menghambat perkembanganya, yaitu suhu antara 30-40 derajat Celcius; keempat, suhu tinggi yang dapat mematikan juvenil nematoda, yaitu suhu 53,3 derajat Celcius, dan suhu 58,3 derajat Celcius pada telur; kategori kelima adalah suhu rendah yang mematikan.

Selain temperatur tanah, kehidupan nematoda juga dipengaruhi oleh keberadaan filum air baik di dalam tanah atau dalam tanaman. Filum air berperan bagi mobilitas nematoda, menentukan inaktif dan tidaknya nematoda, bahkan berpengaruh terhadap mortalitasnya (Williams dan Bridge, 1983). Porositas, kelembaban, dan aerasi tanah juga berperan dalam keberlangsungan hidup nematoda (Sastrahidayat, 1992). Pada umumnya nematoda berada dilapisan tanah antara 15-30 cm, namun dapat berkembang baik jika tanah mempunyai banyak pori dan mempunyai cukup udara. Dari sisi biologi, nematoda luka akar mempunyai perbedaan dengan nematoda yang lain. Nematoda luka akar akan dapat berkembang biak lebih baik di dalam akar tanaman yang pertumbuhannya tidak baik. Tanaman yang mempunyai zat makanan minimal mendorong nematoda berkembang dibandingkan dengan tanaman yang menyediakan zat makanan optimal (Dropkin, 1996).

Menurut Buckman dan Brady (1982), disamping persaingan antara mikroorganisme dan tanaman tingkat tinggi, terdapat pula persaingan antar mikroorganisme. Jika bahan organik ditambahkan, organisme heterotrop tanah yang dominan akan menggeser bakteri autotrof. Beberapa mikroorganisme juga dapat menghasilkan senyawa yang dapat menghambat dan bahkan mematikan mikroba lain.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...