Sabtu, 25 Mei 2013

Mikroorganisme Tanah



Inokulasi mikroorganisme dapat dijadikan alternatif dalam mengatasi kelangkaan pupuk anorganik yang disebabkan mahalnya harga dan distribusi yang tidak merata. 
Ada anggapan yang salah dalam menilai produktivitas padi lokal yang ditanam di lahan pasang surut di Kalimantan Selatan. Biasanya padi tersebut dianggap memiliki produktivitas hasil yang rendah. Kenyataannya di Lapangan tidak seperti itu. Hasil survei pada tahun 1999-2002, di lahan pasang surut tanah sulfat masam diperoleh hasil yang tinggi meski tanpa penggunaan pupuk. Produktivitas padi lokal untuk varietas Siam Ubi mencapai 5,34 ton/ha, Siam Puntal 4,12 ton/ha dan Siam Unus 3,09 ton/ha. 
Tingginya produktivitas padi lokal walaupun tanpa pemupukan, padahal kandungan P tersedianya rendah (< 4,4 ppm), kandungan P total sangat tinggi (> 262 ppm) dan pH sangat masam (> 4,5), serta padi lokalnya tidak menunjukan gejala kekurangan P, menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana tanaman padi tersebut mendapatkan ”makanan” nya untuk mencukupi ” kebutuhan ” nya. 
Hal itu bisa terjadi karena adanya mikroorganisme pelarut P sukar larut dalam tanah baik berupa bakteri, jamur maupun actinomycetes. Mikroorganisme tersebut dapat meningkatkan ketersediaan P melalui proses pengkhelatan dan pelarutan P yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas tanaman. Proses kerjanya adalah mikroorganisme palerut P tersebut akan menghasilkan asam-asam organik yang mampu mengkhelat Al, Fe, Ca, dan Mg membentuk kompleks organomental yang stabil dan P menjadi tersedia bagi tanaman. 
Untuk mengetahui mikroorganisme yang cocok, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa melakukan ujicoba atas 13 bakteri dan 2 jamur pelarut P kepada 3 jenis varietas padi yang dicobakan. Berdasarkan warna koloni bakteri, secara umum bakteri berwarna coklat susu dan putih susu berlendir menunjukkan kemampuan yang tinggi dalam melarutkan bentuk AlPO4, sedangkan pada bentuk Ca3PO4 adalah bakteri berwarna coklat susu dan jingga. Berbedanya kemampuan pada warna yang sama karena ternyata setelah dididentifikasi urutan DNA dan taksonominya, warna yang secara kasat mata sama, belum tentu memperlihatkan spesies yang sama, walaupun masih berada dalam satu ordo yang sama. 
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan kemampuan bakteri dalam melarutkan P sukar larut dalam bentuk AlPO4 dan Ca3PO4 menunjukkan persentase yang bervariasi, bahkan di masing-masing varietas. Besar persentase P – larut yang lebih seragam cenderung diperlihatkan oleh varietas siam unus pada bentuk AlPO4 dan varietas siam puntal pada bentuk Ca3PO4 (Tabel 1). Kemampuan bakteri melarutkan P dalam kedua bentuk P padat tertinggi ditunjukkan oleh varietas siam ubi. Ini seiring dengan lebih tingginya produktivitas yang dihasilkan siam ubi dibanding kedua varietas lain. 
Dalam bentuk AlPO4, kemampuan melarutkan tertinggi ditujukan oleh ordo Burkholderiales, diikuti oleh ordo Actinomycetales dan ordo Nitrospirales, sedangkan dalam bentuk Ca3PO4 adalah ordo Burkholderiales, diikuti oleh ordo Nitrospirales dan ordo Actinomycetales. Bakteri yang memiliki kemampuan melarutkan keduanya adalah ordo Burkholderiales, yakni spesies Burkholderia cepacia strain dan Raistonia pickettii strain. 
Namun, hasil penelitian ini belum dapat dipergunakan langsung dilapangan. Tetapi paling tidak menjadi salah satu langkah awal bagi kita untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus mengurangi keperluan akan pupuk anorganik terutama TSP ataupun SP36. Dan sepertinya teknologi budidaya pertanian yang berasaskan pelestarian sumberdaya alam yang berasaskan pelestarian sumberdaya alam yang menggunakan masukan rendah dengan hasil yang relatif tinggi seperti pengaplikasian mikroorganisme seperti ini sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...