Senin, 24 Juni 2013

Bioetanol (Energi Terbarukan)



Harga minyak dunia yang melambung, sudah lama diprediksi. Logikanya, minyak bumi adalah bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui. Cepat atau lambat, cadangan minyak dunia akan habis. Saat ini, harga minyak memang sedang booming karena kebutuhan negara-negara industri seperti India dan Cina makin meningkat. Selanjutnya, jika negara-negara di dunia tidak segera mengantisipasi kelangkaan minyak bumi, harga minyak akan naik tinggi sekali. Tapi sebaliknya, apabila negara-negara menyiapkan antisipasi sejak sekarang, niscaya harga minyak tidak naik lagi, bahkan dapat turun. Mengapa? Karena dunia nantinya bisa mencari pengganti minyak bumi yang aman, murah, dan mudah diproduksi oleh siapa pun. Saat ini, industri minyak hanya dipegang oleh para pemodal besar. Adapun beberapa bahan alternatif pengganti minyak bumi, salah satunya adalah etanol dari tumbuhan, atau lebih dikenal dengan bioetanol. Pengenalan energi alternatif ini juga merupakan upaya untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.
Di daerah sentra penghasil buah-buahan mengalami masalah dengan sampah organik pada musim panen raya, banyaknya hasil panenan menyebabkan menumpuknya buah di pengepul ataupun kelompok tani sehingga banyak buah yang menjadi busuk dan terbuang menjadi limbah dengan bau tidak sedap.
Dengan jumlah petani salak yang banyak pada musim panen raya produksi buah salak sangat melimpah. Tetapi tidak diikuti penanganan pasca panen dan distribusi yang baik dan tepat, sehingga banyak buah salak menjadi busuk dan terbuang menjadi limbah. Limbah dari buah salak tersebut menyebabkan bau yang tidak sedap dan menganggu kesehatan.
Berdasarkan pengetahuan yang kami peroleh bahwa buah-buahan yang berasa manis mengandung glukosa yang jika difermentasi akan menghasilkan etanol. Sehingga buah salak dan buah-buahan lainnya yang terbuang dapat difermentasi menghasilkan bioetanol yang secara ekonomi mempunyai nilai jual dan manfaat yang lebih tinggi. Selain meningkatkan kualitas udara dan ketahanan energi nasional, biaya produksi bioetanol terbilang rendah karena bahan baku berasal dari limbah pertanian yang tidak bernilai ekonomis dan produk pertanian dapat membantu petani meningkatkan penghasilannya melalui intensifikasi budidaya dan perluasan lahan.
Kegunaan bioetanol selain sebagai bahan pengganti bahan bakar juga dapat sebagai antiseptik (alkohol 70%) yang bisa dijual di apotik
Bioetanol dapat diolah dari berbagai jenis tanaman berpati (ubikayu, jagung, sorgum biji, sagu), tanaman bergula (tebu, sorgum manis, bit, salak) serta serat (jerami, tahi gergaji, ampas tebu). Cara paling mudah membuat bioetanol adalah dengan bahan yang mengandung banyak gula, contohnya salak. Namun, buah salak dalam kondisi baik tidak memungkinkan untuk langsung dijadikan bioetanol karena nilai ekonomisnya. Oleh karena itu, digunakan limbah dari buah salak sebagai bahan baku bioetanol. Limbah buah salak itu antara lain salak yang tidak layak jual/ekspor, salak yang busuk, dan salak-salak kecil yang mengganggu besarnya salak.

Doc.
Seminar : Prof. Dr.rer.nat. Drs. Karna Wijaya, M.Eng.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...