Jumat, 21 Desember 2012

PEMBUATAN MEDIA


Tujuan pembuatan media adalah untuk mempelajari pembuatan media padat, untuk media pertumbuhan mikroorganisme atau jasad renik tertentu yang akan diamati pertumbuhan fisiologi maupun morfologinya lebih lanjut.

Alat dan Bahan
Alat :                                                                                    

Timbangan
Kompor
Gelas ukur
Gelas piala
Tabung reaksi
Kain penyaring
Cawan petri
Bunsen

Bahan :
Tauge
Kentang
Agar-agar
Gula
Aquadest
Cara Kerja
1)      Timbang sebanyak 100 gram tauge, cuci lalu direbus dengan 1000 cc aquadest air selama kurang lebih 90 menit.
2)      Ekstrak tauge yang diperoleh lalu ditambah 60 gram gula dan 25 gram agar-agar. Diaduk terus dan didihkan serta tambahkan aquadest kedalamnya untuk mempertahankan volume tetap 1000 cc.
        Setelah siap ukur pH media dengan menggunakan kertas pH. Untuk pertumbuhan mikroorganisme tetapkan pH media antara 4 sampai 8 saja. Apabila media terlalu asam ataupun basa maka dapat ditambahkan 0,1 n NaOH (bila media terlalu asam) atau 0,1 n HCl (bila media basa).
        Adapun cara memperbaiki pH tersebut dapat dilakukan sebagai berikut: ambil sebanyak 5 cc cairan media yang akan diperbaiki pHnya sampai mencapai pH yang diinginkan. Untuk mengubah pH seluruh media maka dapat diperhitungkan dengan banyaknya penambahan NaOH ataupun HCl yang dibutuhkan pada saat pengubahan pH 5 cc media tersebut. Selanjutnya masukkan media tersebut ke dalam tabung reaksi sebanyak kurang lebih tiga perempat dari tabung tersebut, untuk selanjutnya disterilisasi.

Pembahasan
  1. Dalam mempelajari morfologi maupun fisiologi ataupun untuk identifikasi suatu mikroorganisme pada umumnya, akan banyak sekali berhubungan dengan media tempat tumbuhnya mikrobia. Media ini dapat berupa media buatan yang padat
Media dapat dibagi menjadi dua, yaitu berupa: 
  1. Media cair. Komposisi dapat sintetik dapat pula alami. Keadaan cair karena tidak ditambahkan bahan pemadat seperti agar. Contoh media cair adalah nutrien agar, pepton, dan sebagainya.
  2. Media padat. Sama seperti media cair, bedanya disini ditambahkan bahan pemadat (agar-agar, amilum atau gelatin). Contoh media padat adalah seperti PDA (Potato Dextrosa Agar), GYA (Glukosa Yests Agar), dan lain sebagainya.
Media yang paling sering digunakan adalah media PDA. PDA (Potato Dextrosa Agar), merupakan media yang biasa digunakan untuk menumbuhkan jasad renik. PDA termasuk media semi alami karena kandungan medianya sebagian alami yaitu kentang dan sebagian anorganik yaitu gula.
Sesuai dengan namannya PDA, komposisi dari media ini antara lain:Ekstrak kentang : 1 Liter, Dextrosa : 20 gr, Agar : 20gr, Sedangkan media Tauge komposisinya antara lain: Ekstrak tauge: 1 Liter, Dextros: 60 gr, Agar: 25 gr.
Komposisi tersebut suatu takaran untuk membuat 1 liter PDA. apabila kandungan dari bahan di atas berlebih maka akan berpengaruh terhadap keadaan media tersebut. bisa saja kandungan airnya terlalu banyak seingga tidak cocok untuk dijadikan sebagai media tumbuh.
Karena media ini digunakan untuk menumbuhkan jasad renik maka kandungan bahan-bahan di atas haruslah mencukupi nutrisinya bagi jasad renik tersebut. Dipilihnya kentang atau tauge yang diambil ekstraknya untuk pembuatan media karena dua bahan tersebut mengandung karbohidrat yang cukup tinggi yang sangat dibutuhkan oleh mikroorgansme tersebut dan tidak mudah basi seperti halnya nasi, serta dapat menambah pasokan mineral.  Dextrosa atau gula berfungsi sebagai sumber energi, penambah nutrien sedangkan agarnya sebagai lingkungan, penambah nutrien dan juga sebagai bahan untuk memadatkan media.
Selain sebagai tempat pertumbuhan mikroorganisme, penggunaan dari media ini bertujuan juga untuk: 1) Pemelihara suatu biakan jasad renik. 2) Mempelajari pengaruh jasad renik terhadap suatu zat di dalam media atau sebaliknya. 3) Mendapatkan zat-zat yang dihasilkan zasad renik (vitamin, mineral ataupun protein).
                Media padat dapat dibuat menjadi dua bentu, yaitu:
1)          Media tegak, yang menggunakan cawan petri sebagai tempat media. Media ini memiliki keuntungan permukaannya lebih lebar hanya saja dengan permukaan yang lebar tersebut akan memungkinkan kontaminasi lebih besar terjadi.
2)          Media miring, yang menggunakan tabung reaksi sebagai tmpat media. Media miring memiliki kekurangan pada permukaannya yang lebih kecil, hanya saja keuntungannya kemungkinan kontaminasi sangat kecil.
Pembuatan media harus dilakukan secara aseptik yaitu bekerja disekitar api dan berada di ruangan isolasi dan bisa juga dengan menggunakan Laminar air flow. Pembuatan media yang harus dilakukan secara aseptik ini karena untuk menghindari adanya kontaminasi dari mikroorganisme lain yang tidak diinginkan yang akan merusak media juga mengganggu pertumbuhan mikroorganisme.
Pensterilan tangan dapat diguakan alkohol 70%, sedangkan untuk bahan dapat disterilkan dengan autoclave, alatnya seperti cawan petri dengan mengovennya atau memanaskan bibir cawan di atas api bunsen, jarum ose atau jarum preparat dapat dengan memanaskan di atas api bunsen juga.
Dalam penuangan ekstraksi ke cawan atau tabung reaksi harus dengan hati-hati, dan masih harus berada disekitar api. Setelah itu langsung dirapatkan dengan isolasi agar kemungkinan kontaminasi dapat dicegah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...