Minggu, 08 Juli 2012

Semut, Sahabat umat

Setiap makhluk hidup menggunakan cara yang berbeda untuk memuaskan kebutuhan pangannya. Tulisan ini membahas taktik semut ketika mencari makanan, cara komunikasi mereka, dan persaingan dalam mendapatkan makanan. Semua taktik yang digunakan seekor serangga kecil dalam mendapatkan makanan ini menunjukkan kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui, yang telah menciptakan makhluk ini.

Bagaimana “keluarga” yang beranggota ratusan ribu memperoleh makanan? Satu hal yang paling penting bagi kelangsungan hidup koloni adalah kemampuannya memecahkan masalah makanan. Setiap semut dalam koloni memiliki kewajibannya masing-masing.

Sebagaimana aspek kehidupan mereka yang lain, semut bekerja secara sistematis dalam menyelesaikan masalah pangan. Semut pekerja tua ditugaskan sebagai penjelajah yang mensurvei tanah di sekitar sarang untuk mendapatkan sumber makanan bagi koloni yang populasinya mencapai ratusan ribu (bahkan terkadang jutaan). Ketika para penjelajah menemukan sumber makanan, mereka mengumpulkan teman-teman sesarang di sekitar makanan. Jumlah semut yang berkumpul bergantung pada besar dan kualitas sumber pangan ini. Semut menyelesaikan masalah makanan dengan jaringan komunikasi yang sangat kuat dan juga dengan kemurahan hati mereka; semut tidak pernah berkata “Hanya aku”.

1. Semut yang Saling Memberi Makan

Semut dari spesies yang berlainan berusaha tidak saling bertemu selagi mencari makanan. Setiap spesies mencari jalan masing-masing untuk mencapai sumber makanan. Jika semut tidak sengaja memasuki wilayah kekuasaan koloni lain, perang pun terjadi. Dalam situasi seperti ini, semut penjelajah segera kembali ke sarangnya dan menutup pintu masuknya, sedangkan seluruh anggota koloni berkumpul dan bersama-sama melindungi koloni dari bahaya. Jadi, bagaimana semut makan selama pertempuran, padahal mereka tidak sempat mencari makanan?

Pada saat ini, muncullah keistimewaan semut yang tidak ada pada makhluk hidup lainnya. Selama mereka tidak dapat mencari makanan, semua anggota koloni memakan cadangan makanan yang tersimpan dalam tembolok semut pekerja muda.

Sebenarnya, teknik pembagian makanan ini dilakukan tidak hanya pada saat-saat tertentu, tetapi sepanjang hidup mereka. Semut tidak hanya membawa butiran makanan di dalam tubuhnya, tetapi juga saling memberi makan dari mulut ke mulut. Ketika semut pemburu pulang membawa makanan cair, ia menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri untuk menarik perhatian kawan-kawannya atau langsung menghampiri mereka dan menunjukkan butiran makanan di mulutnya. Makanan cair dipompa dari tembolok sehingga pembagian makanan berlangsung cepat. Pertukaran makanan ini merupakan contoh berbagi yang luar biasa. Sekam dan biji-bijian yang dibawa ke sarang juga dimakan semua semut bersama-sama. Oleh karena itu, kebutuhan makanan seluruh koloni dapat dipenuhi tanpa masalah.

Sistem ini menjadi bukti yang tidak dapat disanggah akan keberadaan sosok “perancang yang agung”. Tidak mungkin sistem penyimpanan yang begitu rumit dan membutuhkan pengorbanan besar ini dapat terbentuk tanpa direncanakan. Selain itu, setiap semut yang lahir mengetahui sistem ini. Oleh karena itu, keharusan membagi makanan pastilah telah diketahui semut sebelum ia menetas, bukan dipelajari sesudahnya. Semut tidak saja diilhami dengan rasa rela berkorban, tapi juga dianugerahi dengan struktur tubuh yang sesuai, sehingga ia dapat membagi makanan yang sudah disimpannya di dalam tembolok. Sebuah “kebetulan” tentunya tidak mungkin menjadi penyebab fenomena ini, melihat tingginya pengorbanan diri yang ada.

Sebagaimana ditekankan berulang kali dalam buku ini, teori evolusi senantiasa menggambarkan bahwa semua makhluk hidup bersaing dan berjuang mempertahankan hidupnya. Oleh karenanya, teori ini sangat sulit menjelaskan contoh pengorbanan yang dilakukan spesies semut. Semut hidup dalam sistem yang membuat mereka saling berbagi makanan. Ini membuktikan bahwa tingkah laku mereka berbeda dengan apa yang disodorkan teori evolusi.

2. Membawa Makanan dengan Teknik yang Rasional

Semua spesies semut, yang jumlahnya mencapai kira-kira 8800 spesies, mencari makanan dan membawanya pulang dengan cara yang berbeda-beda. Dalam spesies-spesies tertentu, semut berburu sendirian dan membawa pulang makanannya masing-masing. Spesies lain berburu berkelompok dan membawa serta menjaga makanannya bersama-sama.

Kalau mendapatkan makanan yang ukurannya cocok bagi tubuhnya, biasanya semut membawanya sendirian. Kalau ukuran makanan terlalu besar atau kalau semut menemukan beberapa gundukan kecil makanan di suatu daerah, mereka mengeluarkan hormon beracun untuk mencegah semut lain agar tidak menghampiri daerahnya. Kemudian, mereka memanggil para pekerja lain, besar maupun kecil, untuk bersama-sama mengangkut makanan.

Dalam kehidupannya, semut juga mengenal pembagian tugas yang sangat sempurna. Semut besar memotong-motong makanan dan menjaganya dari hewan-hewan asing, sementara semut kecil membawa pulang makanan. Semut pekerja mengangkat makanan dengan rahangnya dan membawa makanan di depan selagi kembali ke sarang. Kalau bekerja berkelompok, semut dapat membawa potongan makanan yang lebih besar. Mereka mengangkat makanan menggunakan satu atau dua kaki. Pada saat yang sama mereka juga menggigit makanannya dengan rahang terbuka. Semut pekerja menggunakan cara yang berbeda-beda berdasarkan posisi dan arahnya. Semut yang di depan bergerak mundur sambil menyeret makanan.

Semut yang di belakang berjalan maju sambil mendorong makanan. Semut yang di samping membantu mengangkat. Dengan cara ini, semut dapat mengangkat makanan beberapa kali lebih berat dari yang bisa dibawa seekor semut. Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa jika semut bekerja sama, mereka dapat mengangkat beban seberat 5000 kali berat yang dapat diangkat seekor semut pekerja. Seratus ekor semut dapat membawa seekor cacing besar di atas tanah dan bergerak dengan kecepatan 0,4 cm per detik.

3. Semut dan Jejak Bau

Teknik komunikasi dengan jejak (mengikuti jejak bau) sering digunakan oleh semut. Banyak contoh yang menarik dalam hal ini, Suatu spesies semut yang hidup di gurun pasir di Amerika mengeluarkan bau khusus yang diproduksi di kantung racunnya jika ia menemukan serangga mati yang terlalu besar atau berat untuk dibawanya. Teman-temannya sesarang dari jauh dapat mencium bau yang dikeluarkan dan mendekati sumbernya. Ketika jumlah semut yang berkumpul di sekitar mangsa sudah cukup, mereka membawa serangga tersebut ke sarang.

Ketika semut api berpisah untuk mencari makanan, mereka mengikuti jejak bau selama beberapa lama, lalu akhirnya berpisah dan mencari makanan masing-masing. Sikap semut api berubah jika sudah menemukan makanan. Kalau menemukan makanan, semut api kembali ke sarang dengan berjalan lebih lambat dan tubuhnya dekat dengan tanah. Ia menonjolkan sengatnya pada interval tertentu dan ujung sengat menyentuh tanah seperti pensil menggambar garis tipis. Demikianlah semut api meninggalkan jejak yang menuju ke makanan.

4. Semut yang Bertindak sebagai Kompas

Semut yang bertugas mencari makan biasanya menjalankan tugas dengan cara yang sulit dijelaskan. Ia berangkat ke sumber makanan dengan berjalan berkelok-kelok, tetapi kembali ke sarang dengan rute lurus yang lebih singkat. Bagaimana mungkin seekor semut yang hanya dapat melihat beberapa sentimeter ke depan bisa berjalan lurus? Untuk menjawab pertanyaan ini, seorang peneliti bernama Richard Feynman meletakkan sebongkah gula di salah satu ujung bak mandi, lalu menunggu seekor semut datang dan menemukannya. Ketika semut yang pertama kali datang ini kembali ke sarangnya, Feynman mengikuti jejaknya yang berkelok. Kemudian Feyman mengikuti jejak semut-semut berikutnya. Ternyata Feynman menemukan bahwa semut yang datang belakangan tidak mengikuti jejak yang ditinggalkan; mereka lebih pintar, mengambil jalan memotong sampai akhirnya jejaknya menjadi berbentuk garis lurus.

Diilhami hasil penelitian Feynman, seorang ahli komputer bernama Alfred Bruckstein membuktikan secara matematis bahwa semut-semut yang datang selanjutnya memang meluruskan jejak berkelok itu. Kesimpulan yang didapatnya sama: setelah beberapa ekor semut, panjang jejak dapat diminimalkan menjadi jarak terpendek antara dua titik – dengan kata lain, membentuk garis lurus.

Apa yang diceritakan tadi tentu saja membutuhkan keahlian jika dilakukan oleh manusia. Ia tentu harus menggunakan kompas, jam, maupun perlengkapan yang lebih canggih lagi untuk menentukan suatu jarak. Orang ini harus juga menguasai matematika. Berbeda dengan manusia, penunjuk jalan semut adalah matahari, sedangkan kompasnya adalah cabang pohon dan tanda alam lainnya. Semut mengingat bentuk tanda-tanda ini, sehingga dapat menggunakannya untuk menemukan rute pulang terpendek, meskipun rute ini benar-benar baru baginya.

Meskipun kedengarannya mudah, sebenarnya cara in sulit dijelaskan. Bagaimana mungkin seekor makhluk kecil seperti semut, yang tidak memiliki otak maupun kemampuan berpikir dan mempertimbangkan, melakukan perhitungan seperti ini? Bayangkan jika seorang manusia ditinggalkan di hutan yang tidak dikenal. Walaupun orang ini mengetahui arah yang harus dituju, ia akan kesulitan menemukan jalan yang tepat dan mungkin saja tersesat. Selain itu, ia juga harus melihat keadaan sekitar dengan hati-hati dan mempertimbangkan jalan mana yang terbaik. Namun, semut bertindak seolah-olah mengetahui benar cara menemukan jalan. Pada malam hari, mereka dapat menemukan dan mengikuti jalan yang mereka tempuh saat menemukan makanan pada pagi harinya, meskipun kondisinya berubah.

5. Teknik Berburu yang Sempurna

Beberapa spesies semut menggunakan gigi untuk memakan telur laba-laba, ulat, serangga, dan rayap. Banyak spesies semut (misalnya Dacetine) yang khusus memakan serangga tanpa sayap. Serangga yang dimangsa Dacetine ini hidup berkelompok di tanah dan di daun busuk. Ia juga memiliki tonjolan berbentuk garpu di bawah tubuhnya. Ketika ia bergoyang dan berdiri tegak, organ ini melontarkan tubuhnya ke udara dan bergerak maju bagaikan kangguru mini. Semut Dacetine menggunakan rahangnya bagaikan perangkap hewan untuk menghadapi manuver mangsanya. Ketika semut pencari makan mencium bau serangga dengan antenanya, ia mengintai dengan rahang terbuka 180 derajat.

Semut ini mengaitkan gigi kecilnya pada rahangnya dengan cara menekankannya ke langit-langit mulut. Lalu, semut memeriksa sekitarnya dengan menggerakkan antenanya ke depan. Kemudian semut mendekati serangga perlahan-lahan. Ketika antenanya menyentuh mangsanya, si serangga kecil terjangkau oleh gigi bawah semut. Ketika semut menurunkan langit-langit mulutnya, rahangnya mendadak menutup dan mangsanya terjepit di antara giginya.

Kecepatan kedipan mata kita sangat lambat jika dibandingkan dengan kecepatan gigitan semut ini ketika menjebak mangsanya. Kelopak mata kita membuka dan menutup dalam sepertiga detik; rahang semut Odontomachus bawi bekerja 100 kali lebih cepat. Gigitan tercepat yang teramati memakan waktu 0,33 milidetik.

Struktur rahang semut penjebak panjangnya sekitar 1,8 milimeter. Pada bagian dalamnya terdapat kantong udara yang menempel ke trakea. Sistem ini menyebabkan gigi dapat bergerak cepat. Rahangnya berfungsi sebagai perangkap tikus mini. Ketika berburu, rahang terbuka lebar dan siap menutup setiap saat. Kecepatan menggigitnya berkurang menjelang akhir proses menggigit. Agar giginya tidak beradu terlalu keras, gerakan rahang diperlambat dengan sistem otot khusus.

Saya mau tanya……

Masih ingatkah kita semua dengan lagu anak-anak tersebut? Lagu tentang semut yang sangat familiar. Semut, mungkin sebagian besar dari kita tidak terlalu peduli dengan binatang kecil yang satu ini. Terkadang kita menganggap kehadiran semut hanya sebagai pengganggu, tukang curi makanan. Kita bahkan tak segan-segan untuk membasmi serangga kecil yang satu ini. Berbagai cara kita lakukan agar rumah kita tidak di hinggapi semut. Entah dengan menyiram dengan minyak tanah, atau dengan kapur yang khusus di buat untuk membasmi semut.

Tetapi sebenarnya, sebagai mahluk yang di ciptakan Tuhan paling sempurna di antara mahluk-mahluk lainnya, banyak hal yang bisa kita pelajari dari semut. Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis. Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala disebut superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan. Kecuali di Islandia, Greendland dan Hawai, semut telah menguasai semua tanah di bumi. (Wikipedia) Semut terbagi dalam kelompok-kelompok, yaitu semut penjaga yang bertugas menjaga sarang dari adanya bahaya. Lalu ada semut pekerja, semut yang bertugas membersihkan sarang, menggali lubang untuk sarang yang baru, dan mencari makanan untuk di bagikan kepada semut-semut yang lain. Dan yang terakhir adalah ratu semut. Ukuran tubuhnya berbeda dengan semut-semut yang lain. Ratu semut mempunyai ukuran yang lebih besar. Ratu semut tidak bergerak, hanya diam di satu tempat, tidak mencari makan dan lain-lain. Semut pekerja-lah yang mempunyai tugas untuk menjaga dan merawat ratu semut. Memberinya makan, menjaga telur-telurnya bahkan membersihkan tubuhnya. Apabila sang ratu mati, maka akan ada ratu baru yang menggantikan kedudukannya.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari semut?

1. Kerja sama yang kuat Semut adalah binatang yang berkoloni. Semut yang mungkin selama ini kita kira sebagai binatang yang lemah, ternyata adalah binatang yang paling kuat di bumi, terutama dalam hal bekerja sama. Dalam mencari makanan misalnya, ketika mencari makanan, mereka keluar bersama-sama. Mereka mengangkut makanan secara bersama-sama, untuk kemudian di bagikan kepada semut-semut yang lainnya untuk di makan bersama-sama. Bila ada salah seorang dari mereka yang merasa berat dalam mengangkat makanannya, maka berkumpullah yang lain untuk membantu.

2. Disiplin Semut bisa di katakan merupakan binatang yang paling disiplin, terbukti dengan tidak pernah absennya semut pekerja dalam mencari makanan pada setiap musim panas. Mereka mencari makanan sebanyak-banyaknya untuk persediaan musim dingin. Semut-semut pekerja juga tidak pernah berhenti merawat dan menjaga sang ratu. Begitu pula dengan semut penjaga yang tidak pernah meninggalkan “pos penjagaannya” di depan pintu sarang mereka. Bahkan setiap saat, mereka akan bolak balik untuk memastikan keamanan di dalam sarang.

3. Setia Semut merupakan binatang yang setia. Setia terhadap ratunya, setia terhadap kelompoknya. Para semut pekerja tidak akan pernah berhenti merawat dan memberikan makan untuk sang ratu dan semut-semut lain dalam kelompoknya.

4. Kompak Semut selalu kompak dalam segala hal, bukan hanya dalam mencari makanan, tetapi dalam membangun sarang baru dan mengusir musuh yang datang mengancam. Mereka selalu bahu membahu dan saling membantu, tidak saling menjatuhkan. Sebagai contoh, kita pasti pernah merasakan gigitan semut. Tindakan itu dilakukan, karena mungkin kehadiran kita dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Dan biasanya mereka melakukan hal tersebut secara bersama-sama.

5. Pekerja Keras Semut adalah binatang pekerja keras, dan sepertinya mereka tidak pernah mengeluh kecapaian. Mereka selalu mengerjakan apa yang memang telah menjadi tugas mereka masing-masing di dalam kelompok. Tanpa tendensi apapun. Contohnya ketika membuat sarang, bayangkan saja, apabila diluruskan, panjang sarang semut bisa mencapai 7 km. Tentunya hal tersebut dilakukan dengan kerja keras.

Dalam Islam, kedudukan semut di mata Allah tidaklah main-main. Dari Hadist Riwayat Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada seekor semut pernah menggigit salah seorang Nabi. Nabi tersebut lalu memerintahkan umatnya untuk mendatangi sarang semut kemudian membakarnya. Tetapi kemudian Allah menurunkan Wahyu kepadanya. Allah berfirman: ” Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu lantas kamu membinasakan satu umat yang selalu bertasbih.”

Demikianlah, dari sifat-sifat semut di atas, kita sebagai manusia tentunya dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga. Saat ini, tidak sedikit manusia yang seperti kehilangan sifat manusianya dan menjadi tidak manusiawi. Apa yang terjadi di negeri ini juga bisa jadi merupakan cerminan dari semakin hilangnya nilai-nilai persatuan kita sebagai warga negara Indonesia yang berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Kita saling membunuh, saling mencaci dan memaki. Padahal kita mempunyai akal pikiran, yang seharusnya di pergunakan dengan sebaiknya. Akal pikiran kita pasti tahu, bahwa kehancuran yang terjadi di negeri ini adalah salah. Kita bukan berusaha untuk meperbaikinya, malah terkadang kita semakin memperburuk situasi.

Marilah kita bersama-sama belajar dari semut, belajar menjadi beradab, saling hormat-menghormati, bahu-membahu dalam membangun kehidupan yang lebih baiksebagai sesama manusia, mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...