Kamis, 05 Juli 2012

Senandung Kehidupan : Semu Bupati, Esem Mantri



Anak-anak muda jaman sekarang mungkin tidak banyak yang mengerti arti judul di atas. Pepatah jawa yang pernah dikemukakan oleh Prof. Mr. Djojodigeono itu komplitnya berbunyi ; “Semu Bupati, Esem mantri, Dupak Bujang”  yang mengandung arti bahwa seorang bupati akan mengerti kemasgulan hati atasannya hanya dari melihat rona wajah sang atasan.

Sementara seorang Mantri yang pangkatnya lebih rendah dari Bupati harus melihat senyum atasannya untuk memastikan apakah atasannya marah atau tidak. Senyum memang lebih kongkrit daripada semu. Seorang Bujang (pembantu laki-laki)yang derajatnya tentu saja paling rendah diantara para pejabat-pejabat itu semua, perlu tindakan lebih kongkrit lagi (kalau tidak bisa dikatakan kasar), agar dia bisa mengetahui kemarahan sang majikan, dia perlu ‘didupak’ (disepak).

Pepatah itu sebenarnya mempunyai arti lebih dalam lagi kalau kita lihat dari sisi kejiwaan. Karena sebenarnya bukan derajat bupati, mantri atau bujang yang dipermasalahkan, melainkan ‘kepekaan’ perasaan seseorang untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh orang lain. Semakin halus perasaan seseorang, semakin mudah dia menyesuaikan diri dengan lingkungan dan semakin mudah dia menyikapi hidupnya. Bagi orang demikian, kejadian di dunia yang menimpa orang lain sudah cukup menjadi hatinya terusik untuk membaca keadaan. Dunia baginya adalah buku ceritera yang terbuka lebar dengan huruf yang mudah dibaca dengan alur ceritera yang mudah di pahami.

Nah, bagi para umat yang mengaku ber-Tuhan kepada Tuhannya semestinya jauh lebih peka dari sekedar melihat  ‘semu’ karena sebenarnya kita dengan mudah dapat membaca semua ajaranNya dalam buku-buku keagamaan yang dapat kita peroleh tanpa susah-susah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...