Kamis, 05 Juli 2012

Senandung Kehidupan : Ketika Perahu Mulai Bocor



Pada suatu hari seorang jutawan paruh baya yang punya hoby memancing sambil berperahu, melakukan hobinya disebuah waduk. Seorang remaja lelaki yang mendayung perahu sewaannya menemaninya sambil sesekali berbincang-bincang.

“kau bisa membaca dan menulis nak?” Tanya si jutawan. Remaja lelaki itu menggeleng ssambil berceritera bahwa bersekolahpun ia tidak. Sang jutawan menghela nafas dan berkata lagi “sayang sekali, dengan begitu berarti engkau telah kehilangan separuh hidupmu…”

“Apakah bapak bisa berenang?” ; Tanya siremaja serius.
“Tidak nak, Bapak tidak bisa berenang…” jawab sang jutawan sambil tersenyum.

“Wah…  kalau begitu bapak akan kehilangan seluruh hidup bapak…”  karena perahu ini bocor dan sebentar lagi akan tenggelam!.”

Ceritera di atas sebenarnya member sisi filosofi yang amat dalam bila direnungkan. Seorang remaja lelaki sebagai gambaran orang yang begitu lugu, bodoh, tetapi jujur, ternyata telah menjalani hiduonya dan menyatu dengan apa yang telah dihadapinya setiap hari. Air, perahu, pancing, dayung semua digelutinya dengan laku. Dan keahlian yang dia capai adalah hasil dari penghayatannya. Sementara san jutawan yang hoby memancing sambil berperahu didanau, ternyata tidak memiliki penghayatan yang dalam atas perilaku air, apalagi perhitungan yang matang adanya kemungkinan perahu bocor yang akan menenggelamkan penumpangnya. Dirinya tidak siap menghadapi kemungkinan terjelek yang dihadapi karena merasa bahwa semua yang dihadapinya selama ini merupakan ‘enjoyment’ – sebuah kesenangan yang memberinya kepuasan batin.

“Ilmu agar dapat menjadi kenyataan harus di hayati. Ilmu tanpa penghayatan tidak akan bisa menjadi saksi kenyataan (akan terhenti dalam pikira)”

Demikianlah, ternyata pada prakteknya, ‘laku’ atau tindakan yang didasarkan penghayatan pada ajaran ketuhanan, tidaklah semudah yang kita sangka. 

Banyak hambatan yang kelihatannya sepele tetapi bisa membuat kita terjerembab. Mungkin sekedar rok yang’mlenyok’ kena seterika, atau sekedar masalah kecil seperti ketika si isteri lupa membelikan rokok, eh …. Duniapunmenjadi gelap karena kekecewaan (akibat tidak terpenuhinya keinginan) meledak menjadi kemarahan, membuat si bapak lupa diri, lupa bahwa hidup ini tidak abadi tidak langgeng…… Lupa bahwa kita akan berpisah tidak hanya dengan rok atau rokok kesayangan, tetapi bahkan juga dengan kebun tembakau yang berhektar-hektar, saat Allah SWT memanggil kita – yang mungkin waktu ini masih ada di perahu sambil memancing, tanpa sadar bahwa perahu yang kita tumpangi…. B o c o r!”
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...