Rabu, 11 Juli 2012

Hidup adalah pilihan


Ada dua buah bibit yang terhampar di sebuah lading yang subur. Bibit yang pertama berkata, ‘Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku’.
Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam. “Aku takut. Jika kutanam akarku kedalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui dibawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuterobos tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak”.
Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman”.
Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa pecan kemudian, seekor ayam mengais-ngais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.
RENUNGAN
Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan dan kebimbang-bimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alas an-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan. Maka, pilihlah dengan bijak.
Jangan segan untuk mengulurkan tangan anda.
Tetapi, jangan anda enggan untuk menjabat tangan orang lain
Yang datang pada anda.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...