Sabtu, 09 Juli 2011

BIKER, SOSIAL MASYARAKAT

Setiap hari saya menggunakan sepeda motor untuk beraktivitas. Selain lebih hemat, memakai sepeda motor jauh lebih praktis daripada menggunakan mobil. Motor bisa menembus kepadatan jalan di Palembang yang semakin menjadi saja, terutama pagi dan sore hari saat pulang beraktivitas. Memang kemacetan di Palembang belum separah di Jakarta, tetapi lebar jalan yang sempit dan jumlah kendaraan yang melimpah membuat Palembang makin kurang nyaman berkendaraan.
Motor saya yang setia adalah Yamaha Vega R 110cc tahun 2005. Dialah yang menemani saya pergi ke mana saja, ke kampus, ke pasar, ke swalayan, ke sekolah anak, ke tempat kawinan, dan lain-lain. Tidak banyak dosen UNSRI yang memakai motor ke kampus, saya tahu hanya beberapa orang saja, termasuk saya sendiri.
Karena cukup lama menjadi biker di jalanan, saya menjadi lebih tahu tentang kisah-kisah pengendara motor. Menurut pengamatan saya, sebagian pengendara mobil (jadi tidak semuanya) ada yang suka memandang rendah pengendara motor. Sikap memandang rendah itu disebabkan karena pemilik mobil tersebut mengasosiasikan pengendara motor dengan status sosialnya. Pengendara motor diidentikkan sebagai karyawan kantor, sales, buruh pabrik, guru, dan masyarakat kelas menengah bawah lainnya yang diidentikkan tidak mampu membeli mobil. Padahal tidak semua begitu kan, banyak orang yang memakai motor karena alasan-alasan praktis seperti yang saya sebutkan di atas. Karena bikers dianggap masayarakat kelas dua, maka pemilik mobil sering menunjukkan arogansinya dengan mengklakson keras-keras sambil memaki-maki bikers yang dianggap menghalangi laju mobilnya. Saya yang sering melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala prihatin dengan sikap arogan tersebut.
Namun, sikap memandang rendah itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada pemilik mobil. Para bikers juga punya andil membuat para pemilik mobil sering marah-marah. Bikers yang nakal suka menyalip mobil sehingga membuat pemilik mobil mengerem mendadak diikuti sumpah serapah kepada pengendara motor tersebut. Pernah juga saya melihat seorang pengendara motor menyenggol kaca spion mobil tanpa meminta maaf. Pemilik mobil yang tersinggung mengklakson pengendara motor tersebut sambil terus mengejarnya. Pemilik mobil yang marah atas ulah biker memang ada yang mengejar biker sampai ketemu kemudian menghajarnya.
Para pengendara motor, meskipun dianggap pemakai jalan kelas dua, namun mereka punya solidaritas yang membuat saya terharu. Sesama biker mereka akan saling mengingatkan. Misalnya jika ada biker yang lupa menaikkan standard (penopang kendaraan) padahal sedang melaju, maka biker lain yang melihatnya akan berteriak mengingatkan: “standard!”, kata mereka sambil menunjuk kepada standard. Begitu juga kalau berhenti di lampu merah, mereka akan saling memberi tempat kepada biker lain agar berada di barisan depan. Pada musim hujan, solidaritas sesama biker itu semakin kelihatan. Sama-sama senasib sependeritaan di bawah guyuran hujan, mereka saling mengingatkan untuk hati-hati.
Kalau ada razia polisi, biker mengingatkan biker lainnya yang masih jauh bahwa ada razia. Siapa tahu biker yang ini tidak memakai helm, tidak membawa STNK, atau platnya sudah kadaluarsa. Sudah menjadi rahasia umum kalau polisi di jalan suka mencari-cari kesalahan pengendara motor untuk ditilang, selanjutnya anda bisa mengerti ke mana arahnya, he..he.
Para biker itu tidak kenal satu sama lain, tetapi di jalan mereka seperti bersaudara saja. Rasa persaudaraan yang kuat itu akan makin nyata ketika pas musim mudik lebaran. Kebanyakan para pekerja urban memilih mudik dengan motor. Mereka bagaikan pemain sirkus karena membawa anak, istri, dan barang-barang dalam satu motor. Berbahaya, memang, tetapi kalau mau hemat biaya dan cepat ya terpaksa begitu. Di jalanan mereka bertemu dengan sesama biker lain yang juga mudik. Secara berkonvoi mereka melaju bersama-sama di jalan lintas timur Indralaya-Palembang. Kalau sudah lelah, mereka juga berhenti bersama-sama untuk istirahat. Jika ada biker yang mengalami masalah dengan motornya sehingga terpaksa berhenti, biker lain tanpa diminta tolong ikut berhenti dan menanyakan kesulitan apa.

Begitulah ikatan solidaritas yang tumbuh pada sesama biker. Tidak saling kenal tetapi merasa senasib di jalanan. Sangat menarik menikmati dan menyaksikan fenomena sosial masyarakat kita ini.


Keep Adventure...
Salam Adventure...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...