Selasa, 19 Juni 2012

Sejarah Pulau NTB


Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dibentuk tanggal 14 Agustu 1958. Sebelumnya, Nusa Tenggara Barat merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara. Dengan Undang-Undang Nomor 64 tahun 1958, Provinsi Nusa Tenggara dimekarkan menjadi tiga provinsi, yaitu, Bali, NTB, dan NTT (Nusa Tenggara Timur).

Wilayah NTB mencakup dua pulau terbesar di Provinsi itu, yaitu, Pulau Lompok dan Sumbawa. Penduduk asli Pulau Lombok disebut suku Sasak. Sedangkan penduduk asli Pulau Sumbawa dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu, suku bangsa Sumbawa dan Bima.
Sejak era Kerajaan Majapahit, wilayah NTB, khususnya Pulau Lombok dan Sumbawa, merupakan daerah yang penting. Hal terlihat dari besarnya ambisi Patih Gajah Mada untuk menguasai kedua pulau tersebut. Gajah Mada tidak hanya mengutus utusannya untuk menaklukkan Lombok dan Sumbawa, melainkan datang sendiri ke Lombok untuk mengatur pemerintahan di sana. Selain menaklukan Kerajaan Lombok, Majapahit juga menundukkan kerajaan lain, yaitu, Kerajaan Perigi. 

Sejak abad ke 15, agama Islam mulai mewarnai kehidupan masyarakat NTB. Islam yang datangnya dari Jawa ini berkembang dengan pesat. Pada abad ke 17 sampai ke 19, Islam menjadi kekuatan moral yang besar untuk melawan tekanan raja-raja Bali yang waktu itu menguasai wilayah ini.

Pada akhir abad ke 17, ketika Kerajaan Gowa di wilayah Sulawesi Selatan dikuasai Belanda, banyak kaum bangsawan Gowa yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan kolonial, meyingkir dari Sulawesi Selatan ke NTB. Mereka kemudian mempersiapkan perlawanan terhadap penjajah tersebut. Dengan dijadikannya NTB sebagai tempat pelarian para bangsawan Gowa, Belanda kemudian mengalihkan perhatiannya ke daerah itu.


Belanda tampaknya tidak mau NTB berada dalam pengaruh kelompok perlawanan asal Gowa tersebut. Hal ini antara lain karena NTB merupakan daerah yang penting bagi lalu lintas perdagangan internasional ketika itu. Belanda khawatir jika wilayah NTB, khususnya Lombok yang strategis itu jatuh ke tangan Inggris yang waktu itu sudah mulai menanamkan pengaruhnya di sana.

Pada masa itu, di Lombok terdapat Kerajaan Mataram. Kerajaan yang dipimpin oleh Raja A.A. Ngurah Gde Karangasem ini telah menjalin hubungan dagang dengan Inggris. Kenyataan ini sangat menggelisahkan Belanda. Maka Belanda melakukan berbagai upaya untuk menanamkan pengaruh di Mataram. Tanggal 7 Juni 1843, Belanda akhirnya dapat menekan Mataram untuk menandatangani perjanjian yang isinya antara lain Mataram mengakui kedaulatan Belanda atas Pulau Selaparang dan Mataram wajib melindungi kepentingan perdagangan Belanda. 

Tidak cukup dengan perjanjian di atas, Belanda berusaha menguasai Kerajaan Mataram sepenuhnya. Dengan memanfaatkan pertentangan antara Kerajaan Mataram dengan rakyat Sasak yang beragama Islam, Belanda melakukan berbagai gempuran terhadap Mataram. Akhirnya pada tanggal 20 November 1894, setelah melalui peperangan dan berakhir dengan pengepungan, raja Mataram bersama anaknya, yaitu, A.A. Made Jelantik dan A.A. Gde Oka menyerah. Raja Mataram dan keluarganya akhirnya diasingkan di Tanag Abang. Setelah peperangan itu, berarti Belanda telah menguasai sepenuhnya Pulau Lombok. Mereka kemudian membagi Lombok menjadi tiga onderafdeling, yaitu, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.
Sementara itu, Belanda juga sudah mengikat kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa dengan perjanjian. Karena raja-raja Sumbawa bersikap menyesuaikan diri dengan kehendak Belanda, dengan mudah Belanda menguasai kerajaan-kerajaan tersebut. Sesudah tahun 1907, Kesultanan Sumbawa, salah satu kesultanan terkemuka di Pulau Sumbawa, dijadikan onderafdeling dari Keresidenan Timor.

Belanda terus memperlebar kekuasaannya atas wilayah NTB. Pada awal abad ke 20, Belanda sudah menguasaai seluruh wilayah Lombok dan Sumbawa. Namun penguasaan Belanda ini mendapat perlawanan dari masyarakat kedua pulau ini. Berbagai pemberontakan dilancarkan rakyat. Di Pulau Lombok berlangsung pemberontakan di Desa Sesela, Dea Gandor, Mameal Praya, Pringgabaya I, Pringgabaya II, Tuban, dan pemberontakan Batu Geranting. Sementara di Pulau Sumbawa, perlawanan dilancarkan oleh rakyat di Taliwang Sumbawa, Lunyuk Sumbawa, dan di Bima. Namun semua pemberontakan ini dapat diredam Belanda.

Tahun 1937 organiasi politik yang berpuat di Jawa mulai masuk dan berkembang di NTB. Pada tahun tersebut didirikan cabang Muhammadiyah. Tahun 1938 berdiri Perhimpunan Islam Bima yang kemudian dilebur ke dalam Nahdlatul Ulama cabang Bima. Perkembangan organisasi politik ini berlangsung sampai Jepang masuk dan menguasai NTB. Di era penjajahan Jepang, kebebasan rakyat hilang. Jepang memeberangus berbagai kegiatan rakyat, pemerintahan dijalankan oleh pejabat Jepag dengab tangan besi. Keadaan ini berlangung hingga bangsa Indonesia memproklamaikan kemerdekaannya.
Seperti halnya di daerah lain di Indonesia, paca kemerdekaan adalah waktunya perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Belanda yang masih berniat menjajah Indonesia kembali datang dengan membonceng kepada Sekutu. Rongrongan Belanda ini berlangsung hingga dibuatnya Piagam Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Kerajaan Belanda tanggal 27 Desember 1949. di Era RIS ini, NTB termasuk dalam wilayah Negara Indonesia Timur (NIT).

Bentuk negara serikat ternyata tidak dikehendaki rakyat. Setelah melalui berbagai perundingan antara Pemerintah RIS dan Pemerintah Republik Indonesia, tanggal 19 Mei 1950 dicapai kata sepakat untuk membentuk kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada tanggal 17 Agustus 1950, Republik Indonesia secara resmi kembali terbentuk. Pada saat itu, NTB, masih tergabung dengan Bali dan NTT dalam provinsi Nusa Tenggara sampai akhirnya dimekarkan menjadi tiga provinsi, yaitu, Bali, NTB, dan NTT pada tahun 1958..


So little information from me, I hope this information can be useful to readers
Please understand, if there are any in-one word in writing.  
Do not forget to follow and wait for his comments.

Source: from various sites that I can not mention one by one.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...